Category: Cerita Perjalanan

Di Ujung Genteng

“Ujung Genteng” tidak ada kaitannya dengan “atap rumah”, tapi merupakan nama pantai di selatan Sukabumi yang terkenal sebagai tempat yang indah. Menurut cerita, nama Ujung Genteng sendiri berasal dari kata “ujung gunting”, yang berarti sebuah tempat yang berada di sudut atau ujung dari pulau di Jawa Barat, yang berbentuk seperti gunting, sehingga dinamakanlah tempat ini sebagai Ujung Gunting atau biasa dikenal dengan sebutan Ujung Genteng.

image0031

Pantai Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng di Kabupaten Sukabumi -terletak sekitar 135 km dari Kota Sukabumi, atau sekitar 200 km dari Jakarta, dapat ditempuh dengan waktu 6-7 jam perjalanan mobil. Tempat ini dapat dicapai melalui Jampangkulon – Surade, ibukota kecamatan yang terdekat. Kendaraan dapat dengan mudah mencapai Pantai Ujung Genteng, bahkan juga sudah terdapat angkutan umum menuju ke Ujung Genteng. Hanya transportasi dari Ujung Genteng ke tempat-tempat lainnya memang masih terbatas, karena kondisi jalan maupun jembatan yang belum terbangun. Namun kondisi ini tidak mengurangi daya tarik Ujung Genteng, terutama bagi wisatawan minat khusus.

Di Ujung Genteng juga berderet pantai-pantai yang indah dan masih alami yang memiliki keindahan dan keunikan yang tak ada duanya. Selain Pantai Ujung Gentengnya sendiri, pantai lain yang indah dan potensial adalah Pantai Kalapa Doyong (Kelapa Condong) yang berkarang, Pantai Batununggul dan Pantai Ombak Tujuh- tempat surfing kelas dunia, Pantai Pangumbahan – yang terkenal sebagai tempat bertelur penyu hijau, Pantai Batu Keris, Pantai Akuarium dan masih banyak lagi. Belum lagi sungai, muara sungai, air terjun, perkebunan, tempat pelelangan ikan yang juga menarik untuk kita kunjungi.

image0051

Pantai Ujung Genteng merupakan daya tarik utama dan juga pusat pelayanan bagi wisatawan yang datang. Umumnya fasilitas penginapan, rumah makan, warung, toko kelontong terdapat di pantai ini (dan juga sebagian di Pantai Kalapa Doyong). Bentuknya yang menyerupai jazirah, dengan sebagian menghadap timur dan sebagian barat, menjadikan tempat ini menarik untuk menyaksikan matahari terbit (sunrise) maupun matahari tenggelam (sunset). Di Pantai Ujung Genteng nelayan memarkirkan perahunya dan kemudian menjual hasil tangkapannya di TPI. Sangat menarik untuk melihat kegiatan nelayan yang hilir mudik dengan perahunya, membawa hasil tangkapannya dan menawarkan ikan di TPI.

image0011

Sunset di Pantai Kalapa Doyong

Sedikit lebih jauh dari pantai ini berderet pantai-pantai lain, seperti Pantai Karang Potong dan Pantai Kalapa Doyong dengan karang-karangnya yang saat air laut surut dapat terlihat dengan jelas. Airnya yang jernih dan pasir pantainya yang bersih sangat menarik untuk berwisata di pantai ini dan menyaksikan matahari terbenam di ufuk barat.

Di sekitar pantai ini terdapat penginapan dan homestay yang bersih dan terjangkau harganya. Dengan kisaran Rp. 60.000-Rp. 150.000 /kamar wisatawan sudah dapat menginap di tempat yang bersih dan nyaman, misalnya Pondok Hexa, Mama’s Losmen, Villa Ujang, Deddy Losmen dan lain-lain. Homestay tersebut juga ada yang memiliki rumah makan. Beberapa warung milik penduduk juga terdapat di pantai ini.

image0071

Surfer di Pantai Batununggul

Sekitar 1 kilometer dari Pantai Kalapa Doyong, terdapat Pantai Akuarium yang karang-karangnya berbentuk kotak-kotak seperti akuarium. Pantai ini terletak bersebelahan dengan Pantai Batununggul yang merupakan tempat surfer kelas dunia ber”surfing ria”. Di pantai ini banyak wisatawan asing (khususnya) yang melakukan olahraga selancar. Ombaknya sangat mendukung untuk berselancar. Peselancar kelas mahir umumnya berselancar di tempat ini. Gerakannya yang terlihat sudah sangat mahir betul-betul mempesona mata kita. Begitu terampil mereka meliuk-liuk mengikuti ombak. Di pantai ini juga tersedia homestay yang umumnya digunakan oleh para peselancar dari mancanegara tersebut untuk tinggal. Mereka bisa tinggal minimal 7 hari di pantai ini dan menghabiskan waktunya hanya untuk berselancar.

image0091

Pantai Batununggul

Dari Pantai Ujung Genteng hingga Pantai Batununggul memiliki air laut yang jernih dan ombaknya yang besar tidak terlalu membahayakan wisatawan yang ingin berenang di pantai karena terhalang gugusan karang laut -sekitar 200 meter sebelum garis pantai. Garis pantai terbentang sepanjang sekitar 6 km. Pada saat pasang air laut memenuhi pantai dengan kedalaman air 0,5-1 meter, sangat cocok untuk berendam, bermain perahu karet, juga aktifitas bahari lainnya.

Pantai Pangumbahan memiliki hamparan pasir putih nan halus yang lebar. Pantai ini terkenal sebagai tempat penangkaran Penyu Hijau (Chelonia mydas). Dari 7 (tujuh) jenis penyu di dunia, 6 (enam) di antaranya terdapat di Indonesia. Waktu keluarnya penyu dari laut sampai dengan bertelur (di pasir pantai) sampai saat ini tidak dapat dikendalikan oleh manusia terutama pengelola kawasan. Penyu-penyu tersebut hanya mau naik ke pantai apabila pantai dalam keadaan gelap dan sunyi, dan biasanya hal ini terjadi pada sekitar tengah malam.

image0111

Pantai Pangumbahan

Kondisi ini membuat pengelola kawasan tempat penyu bertelur sering menghalangi orang/pengunjung akan menganggu penyu yang akan bertelur. Objek wisata penyu hingga saat ini sebetulnya masih belum dirancang untuk dijadikan sebagai objek wisata. Pengembangan penyu di Pangumbahan lebih ditekankan untuk fungsi penelitian dan pengembangan teknologi konservasi penyu.

Pada saat malam kami kesana, sayang sekali tidak ada penyu yang naik dan bertelur di pantai ini. Petugas menjelaskan memang jumlah penyu yang naik ke pantai dan bertelur sudah mulai berkurang dibanding 5 tahun yang lalu. Cahaya (lampu dari penginapan/rumah/bulan dan juga senter) maupun suara yang kencang ternyata seringkali mengurungkan niat penyu-penyu tersebut untuk naik ke pantai dan akhirnya mencari pantai lain.

Untuk mencapai Pantai Pangumbahan dan juga pantai-pantai lainnya di kawasan Ujung Genteng biasanya wisatawan menggunakan mobil fourwheeldrive yang dibawa sendiri, atau menyewa ojek motor yang dikelola oleh Organisasi Pengemudi Ojeg Wisata (OPOW). Pengemudi ojeg ini cukup rapi teroganisisasi dan  menawarkan jasa untuk mengantar wisatawan menuju pantai-pantai yang terdapat di kawasan Ujung Genteng. Pengemudi ojeg yang ramah dan juga merangkap sebagai guide, dapat menunjukkan tempat-tempat yang menarik bagi wisatawan. Penulis diantar oleh Pak Yanto yang juga merupakan ketua OPOW. Beliau sangat baik dan sopan dan bahkan mengingatkan pakaian dan sepatu yang sebaiknya dikenakan pada saat menuju Pantai Ombak Tujuh dan Pantai Batu Keris yang melalui padang ilalang dan semak belukar.

Pantai Ombak Tujuh dan Pantai Batu Keris yang berdekatan ini memiliki karang dan ombak cukup besar dan merupakan tempat memancing dan olah raga surfing. Disebut pantai Ombak Tujuh, karena konon puncak ombaknya bisa mencapai 7 buah yang berurutan, sehingga sangat cocok untuk lokasi selancar. Sayangnya pencapaian ke pantai ini memang masih cukup sulit. Dengan menggunakan ojek motor, tempat ini dapat dicapai sekitar 1,5 jam dari Pantai Ujung Genteng, melalui perkebunan kelapa, ilalang, dan kebun penduduk, serta menyeberangi 3 buah sungai yang kebetulan sedang surut tanpa ada jembatan. Menurut pengemudi ojek kami, saat musim hujan, motor ojek perlu digotong oleh pengemudinya untuk menyeberangi sungai!

image013

Pantai Batu Keris

View di Pantai Ombak Tujuh maupun Pantai Batu Keris sangatlah indah.. hamparan laut nan biru dan pantai berpasir dan berkarang menjadikan tempat ini terasa spektakuler.. apalagi sambil mendengar gemuruhnya suara ombak memecah karang di pantai. Beberapa pemancing tampak asyik memancing sambil berdiri dari atas karang tanpa rasa takut sama sekali.

Muara Cimandiri, yang merupakan pertemuan antara Sungai Cimandiri dengan lSamudra Indonesia juga memiliki view yang menawan, khususnya pada saat sunset. Hamparan pasir putih membentang dan deburan ombak betul-betul menyuguhkan pemandangan yang indah. Menyusuri sungai ini ke arah hulu bisa menjadi bagian dari petualangan yang mengasyikan.

image015

Muara Cimandiri

Selain itu ada pula Muara Cipanarikan, yang merupakan tempat bertemunya Sungai Cipanarikan dengan laut. Sungai ini membentuk alur membelok terlebih dahulu sebelum masuk ke laut, sehingga terbentuk hamparan pasir yang cukup luas dengan bentuk pasir yang sangat halus. Di muara Cipanarikan wisatawan dapat menemui berbagai fauna seperti kepiting, belibis, biawak maupun ikan-ikan yang biasa hidup di muara, termasuk ikan-ikan hias yang berwarna-warni dan berenang bebas disela-sela karang.

image019

Curug Cikaso

Jika bosan atau kurang berminat dengan pantai, di kawasan Ujung Genteng ini kita bisa juga mengunjungi air terjun dan menyusuri sungai hingga ke hulu atau muaranya. Curug Cikaso merupakan salah satu air terjun yang banyak dikunjungi wisatawan. Pencapaiannya relatif mudah, dari tempat parkir kendaraan pengunjung bisa memilih untuk berjalan kaki menyusuri ladang penduduk atau dengan menaiki perahu yang disewa dari penduduk dan menyusuri Sungai Cikaso kearah hilir. Perjalanan dengan menaiki perahu sangat menyenangkan, aliran sungai yang tenang dan view di kiri kanan sungai sangat menarik dan indah untuk dilihat. Air terjunnya sendiri cukup tinggi, sayang sewaktu penulis berkunjung kesana (bulan Agustus) sedang musim kemarau, dan sudah 4 bulan tidak hujan, sehingga tidak ada aliran air di air terjunnya. Memang sebaiknya wisatawan memperhatikan waktu-waktu kunjungan bila akan mendatangi tempat wisata seperti air terjun.

image023

Sungai Cikaso

Keindahan kawasan Pantai Ujung Genteng memang sangat menawan dan masih asli. Meskipun fasilitas yang tersedia terbatas dan tidak bermewah-mewah, namun masih cukup memadai. Bagi yang menggemari alam pantai dan petualangan, kawasan Pantai Ujung Genteng akan menjadi pilihan destinasi yang sangat tepat. Meskipun terletak di ujung, namun berwisata di kawasan ini seolah tak ada ujungnya -tak ada habisnya!

Ina Herliana Koswara (inakoswara@yahoo.com)
Senior Researcher and Tourism Planner
Centre for Tourism Planning and Development, ITB
Bandung

Dari Ujung Genteng ke Pangumbahan

Pagi pun merekah. Setelah packing perlengkapan kembali, kami berjalan menyusuri pantai ke arah utara. Cuaca cukup panas di pagi yang menjelang siang. Melewati Teluk Cibuaya, sebuah sungai, dan Kampung Batunamprak.

Di Sepanjang Ujung Genteng – Pangumbahan

Ketika siang menjelang, pantai karang sedikit demi sedikit mulai terlewati. Berganti dengan ombak yang tinggi. Panas bertambah terik. Hutan-hutan pesisir menghijau mulai tampak di depan. Sebuah bilik berpagar rapat dengan bambu berbentuk persegi besar sekitar 10 x 10 meter berdiri. Itu adalah tempat meletakkan telur-telur penyu hijau.

Pangumbahan, Tempat Penyelamatan Penyu Hijau

Kami telah sampai di Teluk Penyu, Pangumbahan. Masuk beberapa puluh meter ke dalam hutan pesisir ini, ada sebuah rumah mess dan tempat penyelamatan penyu. Pak Cecep, salah seorang petugas di sini menyambut kami dengan ramah.

Tempat Penyelamatan Penyu Pangumbahan

Pangumbahan adalah sebuah kampung yang termasuk dalam wilayah administrasi yang sama dengan Ujung Genteng. Tempat penyelamatan penyu ini berada di bawah naungan Departemen Perikanan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dikelola sejak Februari 2008. Sebelumnya, pengelolaan penyu di tempat ini dikelola oleh sebuah perusahaan swasta yang bernama CV Abdi Jaya.

Untuk pengelolaan sebelumnya yang dilakukan oleh swasta, telur-telur penyu yang dihasilkan dibagi 70 : 30. Dimana 70% diambil oleh pengelola, sedangkan tiga puluhnya dirawat, untuk selanjutkan menghasilkan tukik (anak penyu) yang nantinya dikembalikan ke laut.

Tetapi, sekarang, seluruh telur dan tukik yang dihasilkan seratus persen dikembalikan ke laut sejak dikelola oleh Departemen Perikanan.

Kehidupan Penyu

Penyu di tempat ini berjenis penyu hijau (chelonia mydas), termasuk penyu yang dikatagorikan hewan langka. Setiap malam, di sepanjang Pangumbahan sampai dengan Ciwaru adalah pantai tempat penyu ini bertelur. Penyelamatan penyu yang dikelola oleh Departemen Perikanan hanya dari Pangumbahan sampai dengan muara Sungai Cipanarikan. Sedangkan dari muara Sungai Cipanarikan sampai dengan Ciwaru berada dalam pengelolaan Departemen Kehutanan Kabupaten Sukabumi.

Dibandingkan dengan Departemen Kehutanan, pengelolaan di bawah Departemen Perikanan pantainya jauh lebih pendek. Hanya sepanjang kurang lebih tiga kilometer. Terdapat enam titik pos pemantauan penyu bertelur di sepanjang tiga kilometer ini yang diawasi. Setiap malam para petugas mengawasi penyu bertelur di masing-masing pos yang areanya kurang lebih lima ratus meter. Untuk selanjutnya telur-telur yang dihasilkan ditempatkan di penangkaran bilik bambu di pantai pos pertama, di dekat mess petugas.

Penyu Hijau (Chelonia Mydas)

Di sepanjang Pantai Pangumbahan, penyu bertelur secara secara rutin. Jumlahnya puluhan setiap malamnya. Dan selalu diawasi oleh petugas. Sedangkan untuk tukiknya sendiri, dilepaskan setiap pagi ke laut.

Penyu-penyu yang bertelur adalah penyu yang berusia di atas tiga puluh tahun. Telur-telur penyu memerlukan waktu antara 52 sampai 70 hari untuk ditetaskan, tergantung cuaca. Jika musim penghujan, pasir yang sedikit lebih dingin akan membuat waktunya bertambah lama. Begitu juga sebaliknya jika cuaca adalah panas, waktu menetasnya juga lebih cepat.

Dari seratus telur penyu, kemungkinan yang bisa bertahan hidup sampai berusia di atas tiga puluh tahun adalah satu ekor. Atau bisa jadi tidak ada sama sekali. Sungguh luar biasa.

Telur penyu yang banyak berpindah tempat, tersentuh oleh tangan, atau berdesakan dengan telur-telur lain ketika dipindahkan, kemungkinan akan merusak embrio dan gagal menetas. Setelah menetas menjadi tukik, ancaman panas pasir, kepiting, dan burung pasti selalu mengintai. Begitu juga jika sudah ada di laut, tukik-tukik akan menjadi santapan hiu, sasaran camar laut, atau terjaring oleh jala nelayan.

Retorika Penyelamatan Penyu dan Lingkungan

Pada suatu malam aku berkesempatan berbicara dengan Pak Baban, salah seorang petugas senior di tempat ini. Ia sudah menjadi pegawai negeri tetap di Departemen Perikanan.

Penyelamatan penyu di tempat ini banyak memiliki kendala. Banyak warga yang setiap malam menggotong penyu yang keluar dari laut untuk diambil telurnya. Sangat sulit dicegah. Walaupun oleh polisi sekalipun yang juga ikut bertugas. Karena orang-orangnya begitu banyak. Selain itu orang-orang yang mengambil telur-telur tersebut melakukan hal ini karena dorongan ekonomi. Banyak yang merupakan penggangguran dan tidak mempunyai pekerjaan. Sehingga telur-telur tersebut menjadi begitu berharga walaupun harganya satu butir jika dijual kepada penadahnya adalah 2500 rupiah.

Telur penyu dipercaya sebagai obat mujarab untuk menyembuhkan berbagai penyakit, mitos yang melegenda di masyarakat. Begitu juga dagingnya. Dan cangkangnya, banyak digunakan sebagai hiasan barang antik.

Di lain pihak, penduduk sekitar banyak yang melakukan penebangan pohon di daerah pesisir ini yang masih merupakan hutan. Kayu hasil tebangan digunakan sebagai bahan bakar penyadapan gula aren karena cukup banyak penduduk membuat gula di daerah ini.

Penyu secara alami akan memilih pantai tempat bertelur yang masih memiliki vegetasi tumbuh-tumbuhan hutan pesisir. Biasanya di sela-sela semak pantai agak ke dalam. Secara kasarnya, minimal lima ratus meter di sepanjang garis pantai haruslah berupa hutan alami yang terjaga.

Makin banyaknya manusia yang menjamah tempat ini untuk merusak hutan ataupun mengambil telur penyu, makin rentanlah kelestarian penyu hijau ini.

Tempat Penangkaran Telur Penyu

Memang, di manapun, menjaga kelestarian alam dan lingkungan pastilah berhadapan dengan berbagai persoalan yang kompleks. Seperti di tempat ini. Di mana proses konservasi berhadapan dengan dinamika sosial dan ekonomi. Jika digambarkan ibaratnya seperti jala ikan yang kusut. Berbagai kepentingan berbenturan satu sama lainnya. Tentunya sikap dan kebijakan pemerintah, aparat, serta warga masyarakat yang bertalian secara harmonis sangat diperlukan melihat keadaan ini.

Bermalam di Pangumbahan

Menjelang sore hari ini, kami bermalam di mess tempat penyelamatan penyu ini. Beberapa kayu mati yang banyak ditemui di hutan pesisir ini kami kumpulkan untuk membuat api unggun. Juga untuk membakar ikan yang kami beli siang tadi.

Malam ini begitu gerah. Nyamuk dan serangga beterbangan tak terhitung jumlahnya. Aku sadar telah salah kostum di daerah pantai. Sleeping bag yang tentunya nyaman jika dipakai di daerah pegunungan menjadi bumerang di tempat ini. Dipakai panas, tak dipakai menjadi bulan-bulanan nyamuk dan serangga. Lotion anti nyamuk yang kami gunakan sepertinya tidak berpengaruh. Alhasil esok paginya, bentol-bentol dan gatal pun merajalela di kulit.

Tengah malam, di pantai, aku dan beberapa petugas mengawasi seekor penyu yang sedang bertelur di daerah pos 1. Pada waktu penyu mulai keluar dari laut, cahaya-cahaya seperti lampu senter atau yang lainnya akan bisa mengurungkan niat penyu untuk bertelur ke darat. Sehingga untuk itu, diperlukan ketajaman telinga dan bantuan sinar rembulan dalam mengawasi adanya penyu yang akan bertelur.

Beberapa orang tak dikenal terlihat berkeliaran. Sepertinya orang-orang yang menginginkan telur-telur penyu seperti yang tadi diceritakan. Mungkin di pos-pos lain, ada lebih banyak lagi orang-orang yang berniat sama.

Dan memang benar, besok pagi kuketahui bahwa ada delapan ekor penyu yang keseluruhan telurnya diambil di enam pos yang ada. Itu belum lagi ditambah dengan pos-pos di bawah pengawasan departemen kehutanan atau yang tidak terdeteksi. Mungkin jumlahnya puluhan. Itu setiap malam. Sungguh ironis.

Malam ketika penyu bertelur, matanya berair. Mungkin menangis. Karena ia meninggalkan telur-telurnya. Tanpa pernah tahu apakah telurnya akan menetas dan selamat menjadi tukik, ataukah nanti diambil dan dijual kepada para penadah. Tapi yang pasti, ia tahu pada saat ia bertelur ada banyak orang yang mengerumuninya, yang tentu saja dengan berbagai niat.

Pelepasan Tukik

Di pagi hari, kami melepaskan tukik. Tukik-tukik dari telur-telur yang sudah berumur limapuluhan hari yang telah menetas. Ditambah dengan tukik yang sudah siap dilepaskan yang ada di tempat penangkaran, semuanya kami lepaskan ke laut. Pagi ini ada sekitar seribu ekor tukik.

Going to The Sea

Satu dua ekor yang terlambat menetas terperangkap di dalam penangkaran. Yang kalau dibiarkan pasti akan mati terbakar panasnya pasir di pantai. Kami dan petugas yang ada tidak bisa mengambilnya karena kunci untuk masuk ke tempat penangkaran ini hanya ada satu dan dipegang oleh satu orang.

Sebenarnya hari ini, seorang petugas yang kebetulan berjaga membawa kuncinya. Ia menawariku untuk mengambil tukik-tukik yang terperangkap itu, tapi akhirnya diurungkan. Dua orang lelaki bertubuh besar berkeliaran di seputar penangkaran telur ini. Kata sang petugas, andai saja lelaki tersebut melihatnya membuka pintu penangkaran, kemungkinan besar lelaki tersebut bisa memaksa mengambil telur-telur yang ada. Jadi lebih baik mengatakan kalau kuncinya tidak ia bawa.

Aku menghela nafas. Kesal dengan keadaan ini. Kenapa harus takut dengan orang-orang seperti itu? Tapi sudahlah. Petugas yang sudah lama malang melintang dengan kondisi seperti ini pasti mempunyai pertimbangan sendiri memutuskan hal tersebut.

Dia Yang Tergeletak

Akhirnya, aku hanya bisa memandangi tukik-tukik yang terperangkap itu berputar-putar mencari jalan menuju laut yang terhalang pagar-pagar bambu. Berpacu dengan matahari yang makin meninggi. Tukik-tukik kecil tersebut, sudah pasti tidak akan bisa bertahan sampai besok pagi.

Artikel selengkapnya silahkan dibaca di sini : http://airmengalirsampaijauh.blogspot.com/2009/01/ujung-genteng-cikaso-backpacking.html

Ujung Genteng Trip 2nd

Berbeda dengan hari pertama yang lebih banyak dihabiskan dalam perjalanan di mobil yang melelahkan. Hari kedua, diisi dengan full day trip. Lokasi yang akan saya dan keluarga kunjungi kali ini adalah Curug Tilu / Curug Cikaso, Muara Cikaso, dan tentunya kembali pantai Ujung Genteng.

Edisi 2nd day trip ini bakal membahas perjalanan saya ke Curug Tilu dan Muara Cikaso… Enjoy…

6 Januari 2009, sekitaran pukul 07.30, saya dan keluarga besar berangkat ke Curug Tilu menggunakan perahu sewaan yang akan disewa sehari penuh (estimasi biaya Rp.400an ribu, tapi bisa dibagi sampai 20 orang buat full day trip menyusuri sungai Cikaso sampe muaranya).

Sebetulnya akses menuju Curug Tilu ini bisa saja jalan kaki dari jalan, tapi medannya lumayan berat. Bisa nyewa perahu (normalnya sekitar 50an ribu), tapi hanya sekitaran 5 menit kita naik perahu, abis itu nyampe deh di Curug Tilu.

Pemandangan yang gak kalah dari pemandangan alam, adalah pemandangan bangunan sipil. Hehehehe, sebagai orang “civilian”, apalagi geotek, hahahaha, perhatian saya tertarik begitu melihat jembatan Cikaso… Hmmmm, jembatan di tengah hutan.. keren abish…

Jembatan Cikaso ini membelah sungai Cikaso, dan jadi salah satu akses utama dari arah Tegal Buleud (sekitaran muara Cikaso) menuju daerah yang lebih “kota” di Jampang Kulon. Keren yah..?? hehehe, untuk daerah yang masih sepi kayak disana, Jembatan ini adalah akses utama perekonomian masyarakat disana… Yah, jadi harusnya kita sadar bahwa pembangunan infrastruktur juga ternyata jangan hanya dipusatkan di kota-kota, tapi ternyata di daerah seperti ini yang masih bisa digolongkan daerah tertinggal, infrastruktur itu adalah barang vital bagi masyarakat.

Hmmm, menariknya lagi dari jembatan Cikaso ini adalah pada bentangan jembatannya, menggunakan pondasi batterpile (pondasi tiang pancang miring). Bukan merupakan barang baru memang batterpile ini dalam dunia ketekniksipilan, tapi yah, saya sebagai orang yang masih belajar di sekolah tukang insinyur baru pertama kali melihatnya, hehehehe, barang bagus…

Lanjut lagi, setelah berperahu melewati kolong jembatan Cikaso, perjalanan lanjut menuju Curug Tilu. Wah, adalagi yang menarik, air di sekitaran Curug (air terjun) ini berwarna hijau, jadi sewaktu kita mau masuk daerah curug, air sungai bergradasi dari coklat ke hijau, keren lah…

Sesampainya disana, kita harus jalan dulu sekitar 50an meter, dan sementara gemuruh air terjun berdebur terdengar di genderang telinga kita. Hmmmm, saat Curug Tilu itu tersibak dari balik semak-semak… Subhanallah…!!!!!!! saya takjub…!!!! It’s a huge waterfall…

Kenapa dinamakan Curug Tilu..?? yah karena setelah saya sadar, disana ada 3 (tilu : Sunda) air terjun, dengan 1 air terjun utama yang paling besar debitnya. Wow, mantap gak tuh…?? satu lokasi dengan 3 air terjun… Plus, pemandangan alam yang masih alami dan berlumut… khas Hutan Tropis banget lah…

Karena waktu itu (januari) masih dengan curah hujan tinggi, Curug Cikaso ini debitnya gede banget. Padahal, kalo debitnya gak besar, kita bisa berenang disana. Airnya jernih banget… Jadi, hal yang saya lakukan adalah hanya berfoto2 sambil loncat2 di batu yang licinnya minta ampun (rock full of “lumut”).

Karena waktu itu debit airnya gede banget, yah, resiko kena semburan air yang gede banget… disini ati2 sama yang namanya kamera kalo mau foto2, hehehehe, kamera saya juga akhirnya basah… Dan, tentunya secara gak sadar, saking asiknya foto2, badan pun ternyata basah kuyup kayak abis nyebur ke air saking kencengnya semburan air dari air terjunnya…

Yah, cukup, akhirnya sekitar jam 11 (gak terlalu lama juga kita di Curug Tilu) kita balik lagi ke perahu buat lanjut menyelusuri Sungai Cikaso sampai muaranya. Lagian waktu itu ternyata gerimis mengundang, hehehe. Nah, ini juga salah satu bagian yang saya suka dari perjalanan ini.

Dengan perahu sewaan, akhirnya kami menyusuri Sungai Cikaso yang lebarnya sekitaran 80an meter. Wah, kalo anda2 pernah liat di tipi2 film2nya Rob Bredel, atau apalah itu yang menjelajah hutan2 belantara dengan perahu… Saya sudah pernah mengalaminya, hehehehe… Sungai Cikaso ini menyimpan berjuta pesona kawan… Perjalanan menuju Muara Cikaso ini memakan waktu kurang lebih 45an menit dengan perahu mesin. Banyak banget pemandangan hutan di kiri kanan sungai yang bisa dinikmati.

45an menit waktu yang diperlukan biar kita sampai di Muara Cikaso. Dan lagi, Kejutan yang disediakan alam Sukabumi Selatan ini adalah Muara Cikaso. Muara Cikaso ini adalah muara sungai yang unik, karena air sungainya terhalang oleh semacam padang pasir karena terbawa angin dari samudra Hindia, alhasil, muara Cikaso ini merupakan padang pasir dengan terdapat gunung pasir yang tingginya hampir 20an meter. Seluas Mata memandang, hanya ada pasir dan laut… Maklum, masih pantai perawan, hehehehe…

Yah, karena saking luasnya padang pasir ini, sebagai konsekuensi, panas sangat menyengat saat itu, karena sampai sana sekitaran tengah hari. Istrihatalah dulu kita sebentar di warung2 pinggir muara. 2 buah kelapa muda saya habiskan saking hausnya saat itu, ditambah udang rebus yang sekilo cuman 30 rebu, mantap bener dah…!!

Hmmmm, seems like 2nd day di Sukabumi Selatan berakhir sampai disini… Sampai sore kita di Muara Cikaso, ngaso2, makan2, tidur2, hehehehe… Sorenya kita balik ke tempat nginep pake perahu bermotor lagi, menempuh waktu 1 jam. jam 3an kami sampai di penginapan…

“Ah, ke Ujung Genteng lagi Yuk…” celetuk saya ke sepupu perempuan saya… Hmmmm, akhirnya sekitaran jam 4 sore, kami kembali ke Ujung Genteng untuk melihat 2nd sunset…

Sumber asli : http://aryansah.wordpress.com/2009/04/06/ujung-genteng-trip-2nd-day-1/